Bashirah

Allah Swt. memberi manusia mata kasar agar dapat melihat segala yang zhahir atau lahir, yang dapat dilihat oleh mata biasa. Tetapi untuk dapat melihat hal yang ghaib, Allah telah mengkaruniakan suatu penglihatan yang halus dalam hati, yang dikenal dengan bashirah. Bashirah terbuka di dalam hati orang-orang yang dekat atau kuat taqarrub- nya kepada Allah. Tidak ada satupun kekuasaan atau ilmu di dunia ini yang dapat memberikan Bashirah. Padahal, manusia sangat mmerlukannya untuk sampai ke ‘Alam Gayb yang merupakan rahasia-rahasia Tuhan, kecuali ia tergolong orang-orang yang diberi karunia khusus oleh Tuhan, yaitu ilmu yang datangnya dari kesadaran diri tentang Ketuhanan Allah Yang Esa yang keluar dari kesadaran diri terhadap Ketuhanan Allah Yang Esa yang tercurah hatinya untuk mengenal alam rahasia Allah yang ghaib.

seperti dalam firman-Nya :

“……. yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami yang telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi kami. ” ( QS. al-Kahfi : 65 ).

Ajaran atau risalah yang disampaikan kepada manusia memiliki dua kategori, yaitu zhahir dan batin, nyata dan gaib, tampak dan tidak tampak. Risalah yang zhahir ialah hukum syariat dan risalah yang batin adalah hikmah atau ilmu. Allah Swt. memerintahkan kita supaya mematuhi syariat untuk mengharmonikan atau menyelaraskan aspek zhahir kita. Demikian pula dengan aspek batin kita, hendaknya kita mengharmonikannya melalui ilmu atau hikmah.

Apabila  yang zharir dan batin bersatu, atau apabila syari’at dan hikmah berpadu, barulah seseorang itu dapat mencapai taraf  hakikat. Ibarat pokok buah-buahan yang telah mengeluarkan daun, putik, bunga dan seterusnya menjadi buah.

Firman Allah :

” Antara keduanya ada batas yang tidak dapat dilampaui oleh masing-masing .” ( QS. ar-Rahman:20)

Jelaslah kini bahwa keduanya harus disatukan dan dipadukan. Hakikat tidak dapat dicapai hanya melalui ilmu yang diperoleh melalui panca indera. Lewat panca indera semata, seseorang tidak akan dapat mencapai tujuannya, yaitu mengenal Yang Asal atau Dzat. Ibadah yang sebenarnya memerlukan syariat dan hakikat. Disebutkan dalam firman Allah :

” Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah Aku “. ( QS. adz-Dzaariyaat : 56 ).



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s